Walk in Interview, Metode Kuno Rekrutmen Yang Rentan Merugikan Pelamar dan Perusahaan

Ada berbagai metode rekrutmen karyawan baru yang dilakukan oleh perusahaan. Di Indonesia, cara yang masih banyak dipakai adalah walk in interview. Yaitu jenis wawancara dimana pelamar datang langsung untuk memberikan CV dan dokumen pribadi serta melakukan wawancara di lokasi. Tidak perlu janjian dan dipanggil terlebih dulu oleh perusahaan.

Proses wawancara atau perekrutan biasanya tidak hanya berlangsung di perusahaan tersebut, melainkan bisa saja terjadi di suatu tempat di luar gedung perusahaan, seperti di hall, hotel atau tempat lain. Cara ini banyak juga dilaksanakan saat Job Fair. Pada dasarnya menjalani walk ini interview sama saja dengan wawancara biasa. Hanya saja pelamar dituntut kesiapan maksimal karena akan langsung berhadapan pewawancara saat melamar.

Namun menurut kami, walk in interview adalah cara kuno yang perlu dievaluasi penggunaannya karena merugikan bagi kedua belah pihak. Baik untuk pelamar kerja maupun perusahaan. Apa pasal? Karena jika proses ini berlangsung, biasanya akan terjadi antrian massal para pencari kerja. Ratusan bahkan ribuan yang akan datang melamar.

Antrian rekrutmen karyawan yang diadakan oleh salah satu restoran cepat saji.

Banyak tenaga dan waktu yang dikeluarkan oleh pelamar hanya untuk menunggu antrian. Pun dari segi biaya. Pasti ada ongkos transport dan cetak dokumen yang dikorbankan. Padahal seringkali tenaga kerja yang akhirnya diterima sangat sedikit jika dibanding jumlah pelamar yang datang. Perbandingan rasionya sangat timpang.

Juga dokumen dan CV pelamar tidak semuanya akan bisa dibaca oleh panitia rekrutmen. Mengingat biasanya ada ribuan lamaran masuk sedangkan jumlah interviewer hanya sedikit. Padahal pelamar sudah mengeluarkan biaya untuk mencetak dokumen tersebut. Kesannya, jerih payah ribuan pelamar yang datang menjadi tidak berharga.

Bagaimana dari sisi perusahaan? Banyak perusahaan menganggap bahwa cara ini adalah cara yang murah dan efektif. Padahal, jika dihitung secara biaya, waktu yang diinvestasikan oleh interviewer juga merupakan biaya, belum lagi apabila menggunakan eksternal interviewer.

Ditambah pula antrian panjang yang terjadi tak jarang akan menguras stamina dan konsentrasi pelamar, serta menambah rasa gugup mereka yang akan melakukan interview, terutama bagi para lulusan baru atau fresh graduate. Semua hal tidak terencana dengan baik oleh pelamar.

Sehingga akan menghasilkan output yang cenderung subyektif dan memiliki tingkat validitas yang rendah untuk memotret perilaku yang diharapkan muncul oleh calon tenaga kerja tersebut dalam menjalankan pekerjaannya. Padahal, proses rekrutmen itu sendiri dilakukan supaya perusahaan mendapatkan tenaga kerja yang terbaik dan berkualitas bukan?