Mempertanyakan Efektivitas Job Fair di Era Digital

Job Fair bukanlah hal yang asing dalam dunia kerja, terutama bagi para pencari kerja (job seeker). Banyak dari mereka yang datang ke perhelatan ini dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan. Pasalnya pada acara tersebut baianya memang terdapat banyak lowongan pekerjaan. Mulai dari perusahaan skala menengah hingga skala nasional.

Tapi apakah yang sudah mereka korbankan sebanding dengan kemungkinan bahwa mereka berhasil mendapatkan pekerjaan melalui job fair? Terlebih, sekarang adalah era digital. Dimana hampir segala hal bisa dilakukan lebih mudah melalui internet dan gadget, termasuk sistem rekrutmen karyawan.

Iva, seorang mahasiswi asal Universitas Islam Indonesia menuturkan kepada kami bahwa dirinya pernah mengikuti berbagai job fair di berbagai kota. Namun tidak ada hasil.

“Saya coba mencari pekerjaan lewat Job Fair, mulai dari Yogya, Semarang dan Sekitarnya. Tapi tidak ada pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan bidang saya,” ungkap Iva.

Padahal drinya sudah rela menempuh perjalanan jauh, antri, kepanasan dan berdesak-desakan agar bisa memberikan lamaran mereka ke pihak perusahaan yang membuka stand di sana.

“Yang namanya job fair sama aja, di sana antri dan penuh banyak orang. Saking panasnya saya mau pingsan. Dan hasilnya sama aja, saya tidak dapat pekerjaan,” Lanjut Iva. Untuk diketahui, pada akhirnya wanita berhijab tersebut berhasil mendapatkan pekerjaan justru dengan cara melamar lewat internet. Tepatnya melalui aplikasi pencari kerja Robs Jobs.

Antrian pencari kerja pada perhelatan job fair. Foto : Kompas.com

Tak hanya itu, kami juga mencoba melakukan riset kecil-kecilan melalui pencarian di Google. Hasilnya tidak sedikit tulisan dari beberapa pihak yang menyatakan bahwa sistem rekrutmen ala job fair kurang efektif jika dibandingkan rekrutmen secara online. Ada tiga hal utama yang menjadi sorotan, yaitu :

1. Biaya Masuk

Biaya masuk untuk sebuah tiket masuk mungkin sudah biasa diterapkan pada sebuah acara. Tapi menurut kami, pemberlakuan biaya masuk pada sebuah job fair sangat disayangkan. Sebagian besar pengunjung adalah mereka yang belum bekerja dan tentunya tidak memiliki banyak uang. Apalagi, mereka juga harus keluar biaya transport untuk mencapai lokasi acara. Jadi tidak heran kalau beberapa orang mengeluh dengan adanya biaya masuk ini.

Coba bandingkan jika melamar kerja via online. Hampir seluruh portal penyedia lowongan kerja memfasilitasi agar mereka dapat melamar kerjaan secara gratis. Hanya perlu bermodalkan koneksi internet dan gadget. Itupun tidak harus membeli sendiri jika belum mampu. Bisa meminjam atau menumpang dengan teman atau kerabat.

2. Pengunjung yang Antri dan Berdesakan

Hampir seluruh perhelatan job fair, dapat dipastikan kondisi di dialam acara penuh sesak oleh pencari kerja. Pengalaman yang banyak orang rasakan adalah tidak fokusnya melihat lowongan pekerjaan yang dipasang oleh perusahaan masing-masing. Belum lagi kelelahan fisik yang harus dialami.

Bandingkan jika melamar via online. Pelamar bisa melakukannya dimanapun. Bebas memilih tempat yang dirasa paling nyaman. Sambil santai menikmati kudapan atau segelas minuman dingin.

3. Terbatasnya Perusahaan yang Berpartisipasi Dalam Job Fair

Beberapa kali kami mendapat brosur agenda job fair yang diadakan di tempat berbeda. Entah kebetulan atau bagaimana, kami melihat perusahaan yang ikut hampir sama atau dengan kata lain “perusahaan itu-itu aja yang jadi peserta”. Banyak perusahaan yang kapan hari mengikuti job fair di suatu daerah kembali ikut job fair di daerah yang berbeda. Bahkan mereka membuka lowongan dengan posisi yang sama dengan yang ditawarkan pada acara sebelumnya.

Ini berarti juga, pelamar tidak bisa memberikan lamarannya kepada perusahaan lain yang tidak mengikuti acara tersebut. Padahal bisa jadi kesempatan kamu diterima malah lebih besar jika melamar ke perusahaan yang tidak ikut job fair.

Ini sangat berbeda dengan jika kamu melamar lewat platform pencari kerja, misalnya Rob Jobs. Di sana ada ratusan perusahaan yang membuka lowongan. Berbagai posisi pekerjaan dan penempatan kerja. Update setiap harinya.

Kendati memang harus diakui, ada beberapa orang yang berhasil diterima kerja melalui job fair. Tapi jumlahnya sedikit. Pun tidak sebanding dengan biaya, waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan. Sebagai pencari kerja, silahkan kamu simpulkan sendiri berdasarkan opini yang sudah kami jabarkan di atas. Akhir kata, apapun cara mencari kerja yang kamu pilih, semoga mempertimbangkannya dengan matang dan menyeluruh. Semoga sukses!